Tiga Guru SMA Al Kautsar Jadi Instruktur UKG

TIGA guru SMA Al Kautsar, yaitu Mesiyanto (guru Geografi), Supardi (Fisika), dan Sukijo (Bahasa Indonesia) terpilih menjadi instruktur Uji Kompetensi Guru (UKG) untuk tingkat Kota Bandar Lampung.
Untuk itu, mereka harus mengikuti pelatihan instruktur nasional guru pembelajaran yang digelar Kemendikbud.

Salah satu guru SMA Al Kautsar, Mesiyanto saat ini sedang mengikuti pelatihan instruktur nasional di Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidikan dan Tenaga Kependidikan, Kemendikbud (P4TK), Malang. Pelatihan yang diikuti puluhan peserta dari berbagai daerah di Indonesia ini dilaksanakan selama 10 hari, mulai 1—10 September. “Ini pelatihan yang terakhir, dua guru SMA Al Kautsar yang lain sudah mengikuti pelatihan nasional duluan bulan lalu,” kata Mesiyanto, Rabu (7/9).
Menurutnya, pelatihan ini untuk meningkatkan kompetensi para guru yang nantinya akan menjadi instruktur UKG di kabupaten/kota masing-masing. Pelatihan berisi 10 kompetensi yang harus dimiliki oleh guru, diantaranya penguasaan bahan ajar, mengelola program belajar mengajar, mengelola kelas, menggunakan media/sumber, menguasai landasan kependidikan.
Lalu, mengelola interaksi belajar-mengajar, menilai prestasi siswa, mengenal fungsi dan program bimbingan dan penyuluhan, mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah. Serta, memahami prinsip-prinsip dan menafsirkan hasil penelitian pendidikan guna keperluan pengajaran. “Sepuluh kompetensi inilah yang dinilai dalam pelatihan ini,” kata dia.
Mesiyanto menjelaskan, untuk bidang Geografi ada 23 peserta se Indonesia, tiga diantaranya dari Lampung. Selain dia, dua guru lain berasal dari SMAN 1 Sukoharj Pringsewu, dan SMAN 1 Way Pangubuan Lampung Tengah.
Mesiyanto menjelaskan, setelah lulus dari pelatihan instruktur nasional ini, selanjutnya para guru bertugas melatih dan membimbing para guru daerah yang memiliki nilai UKG rendah. Pola pelatihan dibagi menjadi dua model, bagi guru yang memiliki nilai merah 8—10 dari 10 kompetensi yang diujikan harus mengikuti pelatihan tatap muka. Sedangkan, bagi guru yang nilai merahnya 3—7 dapat mengikuti pelatihan lewat moda daring atau e-learning. “Jadi kalau ada kesulitan, guru-guru bisa berkomunikasi dengan instruktur secara online, sistemnya sudah ada dari Kemendikbud, daerah tinggal menjalankan teknisnya saja,” kata Mesiyanto. Setelah mendapatkan pelatihan ini, baru kemudian guru kembali mengikuti UKG.
Print Friendly, PDF & Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *