Walau belum dilounching secara resmi,  Masjid Baru Al Kautsar sudah mulai beropesional.

Rabu malam (8/5/2019), Ketua Yayasan Al Kautsar, Wagiso bersama pengurus dan sekitar 190 siswa asrama Al Kautsar melaksanakan shalat tarawih di Masjid Al Kautsar.

“Ini shalat tarawih perdana di masjid yang baru jadi ini,  selama ini anak-anak shalat tarawih di aula asrama, ” ujar Wagiso, tadi malam.

Para siswa berbondong-bondong ke masjid saat mendengar suara azan isya.

Usai melaksanakan shalat isya berjamaah, dilanjutkan dengan kultum dan motivasi dari Ketua Yayasan.

Ketua Yayasan, Wagiso menyampaikan rasa bahagia dengan kehadiran siswa-siswa Al Kautsar yang meramaikan dan memakmurkan masjid Al Kautsar.

“Kalian harus bersyukur dan berterimakasih kepada orangtua kalian yang sudah mempercayakan anaknya untuk mondok atau tinggal di asrama demi masa depan dan akhlak yang lebih baik, ” ujar Wagiso.

Masjid belum selesai sepenuhnya karena masih ada beberapa ornamen yang difinishing. Namun, ujar Wagiso, masjid sudah bisa digunakan oleh melaksanakan ibadah,  kajian dan kegiatan keagamaan lainnya.

“Masjid ini masjid kita bersama,  mari kita makmurkan bersama-sama dengan ibadah rutin shalat wajib,  berjamaah disini. Juga bisa digunakan untuk kalian belajar jadi imam,  belajar kultum, tadarus mengkhatam bacaan Alquran, ” tuturnya.

Masjid Al Kautsar juga digunakan oleh 300-an siswa kelas X yang mengikuti Pesantren Kilat (Sanlat)  selama tiga hari,  Kamis (9/5/2019) -Sabtu (11/5/2019).

Wagiso mengatakan Sanlat Ramadhan tidak hanya memberikan materi keislaman seperti fiqih,  sirah rasulullah dan sahabat,  hapan doa  dan surah alquran,  tetapi juga menanamkan dan membiasakan prilaku baik dan Islami.

“Saya harapkan semua peserta sanlat sungguh-sungguh menjalani semua kegiatan. Alhamdulillah sekarang Masjid Al Kautsar sudah bisa dipakai untuk shalat berjamaah, jadi nanti kegiatan ibadah bisa di pusatkan di masjid, ” tuturnya saat membuka sanlat Ramadhan,  kemarin.

Lebih lanjut,  Wagiso menjelaskan melalui pesantren kilat, diharapkan dapat memperkuat pondasi agama siswa sehingga tidak mudah terpengaruh budaya negatif dari luar.

“Kalian harus pelajari dan pahami nilai-nilai Islam sehingga mampu memfilter mana yang baik dan buruk, ” ujarnya. ()

Print Friendly, PDF & Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *